Tanda Tanya
Satu dari sepersekian, entah harus kunamai apa. Ini erat kaitannya dengan buku usang yang telah lama tak terjamah. Mungkin berat, memori lama seakan mengangkasa. Terpaku pada jarak 30cm dengan pancaran cahaya kelabu yang makin hari makin abu-abu. satu.. dua.. tiga.. Aku mulai berhitung, enggan rasanya menjumpai bait aksara yang seakan melegenda. Seperti narator dalam serial drama bisu. Harusnya tak sepelik ini, meringkas kata yang dahulunya sungguh luar biasa. Teka-teki sulit dipecahkan, dan jelas... aku masih tertahan. Menantikan ending yang entah akan berakhir dengan penjelasan ataukah tetap menjadi teka-teki yang teramat sukar untuk diselesaikan. Perkenalkan, aku Bunga. ~Harusnya Bunga perlu disiram agar tak layu, perlu dipupuk agar bisa tumbuh subur. Tapi aku Bunga yang berakal, dari akal terlahir beribu tanya. Sungguh.. aku masih tersudut dengan jawaban rancu di penghujung malam kala itu. *Bunga.. Bunga..* Tersadar dalam lamunan, ternyata ia diperhatikan sedar...